Puasa Ramadhan

  1. 1. Keutamaan Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan banyak sekali keutamaan yang dijumpai di dalamnya, antara lain :

  1. Pengampunan Dosa

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لهَ ُمَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

(HR. Bukhary dan Muslim)

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلىَ الْجُمُعَةِ وَ رَمَضَانُ

إِلىَ رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dan dari Ramadhan ke Ramadhan, menghapus semua dosa yg terjadi di antaranya jika dosa-dosa besar dijauhi”. (HR. Muslim)

  1. Bulan yang diberkahi oleh Allah.
  2. Pintu-pintu surga dibuka.
  3. Pintu-pintu neraka ditutup.
  4. Setan-setan dibelenggu.

Sabda Rasulullah   :

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ

وَ غُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang bulan Ramadhan maka dibukalah pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka,

dan setan-setan diikat (dibelenggu).”

(HR. Bukhary dan Muslim)

  1. Waktu yang mustajab untuk berdoa.

لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُوْ بِهَا فِيْ رَمَضَانَ

“Setiap muslim memiliki doa yang mustajab (terkabulkan) yang ia berdoa dengannya pada bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad)

ثَلاَثٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ : الصَّائِمُ حِيْنَ يُفْطِرُ وَ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ

وَ دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ

“Tiga hal yang tidak tertolak doa mereka : orang yang puasa ketika berbuka, imam (pemimpin) yang adil, doa orang yang teraniaya .” (HR. Ahmad)

  1. Terdapat malam Lailatul Qadr yang lebih baik daripada 1000 bulan.

“Tahukah engkau apakah malam Lailatul Qodar itu? Malam Lailatul Qodar itu lebih baik dari seribu bulan”. (QS Al Qadar : 3)

  1. Al Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan sebagai petunjuk bagi umat manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan batil)”.

Firman Allah   :

6

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)”. (QS. Al Baqoroh : 185)

Allah mengunjungi  hambaNya pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa dan mengabulkan do’a.

  1. Pembebasan dari api neraka.

إِنَّ ِللهِ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ وَ لَيْلَةٍ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari neraka setiap siang dan malam bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad, Bazzar, Ibnu Majah)

  1. Termasuk para shiddiqiin (orang-orang yg jujur) dan syuhada’ (orang-orang yg mati syahid).

Dari ‘Amr bin Murrah Al Juhani t berkata : datang seorang laki-laki kepada Rasulullah r dan berkata :

يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَرَأَيْتَ إِنْ شَهِدْتُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، وَ أَنَّكَ رَسُوْلُ اللهِ وَ صَلَّيْتُ الْخَمْسَ وَ أَدَّيْتُ الزَّكَاةَ وَصُمْتُ رَمَضَانَ

وَ قُمْتُهُ، فَمِمَّنْ أَنَا ؟ قَالَ : (( مِنَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ ))

“Wahai Rasullullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan engkau adalah utusan Allah, aku shalat 5 waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan shalat Tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ? Beliau menjawab : “Termasuk dari shiddiqin dan syuhada’.” (HR. Ibnu Hibban)

  1. 2. Kapan dan Bagaimana Puasa Ramadhan Diwajibkan ?

Puasa Ramadhan wajib dikerjakan setelah terlihatnya hilal, atau setelah bulan Sya’ban genap 30 hari. Puasa Ramadhan wajib dilakukan apabila hilal awal bulan Ramadhan disaksikan oleh seorang yang dipercaya. (HR. Abu Dawud, Daruquthni). Sedangkan awal bulan Syawwal ditentukan dengan kesaksian dua orang yang dipercaya. (HR. Abu Dawud, Ahmad, Daruquthni). Sabda Nabi:

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ

فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Puasalah karena kalian melihat hilal, dan berbukalah karena melihat hilal, jika kalian terhalang awan, sempurnakanlah bulan Sya’ban tiga puluh hari.” (HR. Bukhary dan Muslim)

Tidak boleh mendahului bulan Ramadhan, dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya dengan alasan kehati-hatian, kecuali jika bertepatan dengan puasa sunnah yg biasa ia lakukan.

لاَ تُقَدِّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَ لاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلاً يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan melakukan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali seseorang yang telah rutin berpuasa maka berpuasalah .” (HR. Muslim)

Juga tidak boleh berpuasa pada hari yang diragukan (yaitu tanggal 30 Sya’ban dimana manusia ragu-ragu apakah sudah masuk bulan Ramadhan atau belum).

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيْهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan berarti telah durhaka kepada Abu Qosim (Rasulullah r).” (HR. Bukhary, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i , Ibnu Majah )

Lamanya puasa Ramadhan adalah sebulan atau kalau dengan perhitungan hari bisa 29 atau 30 hari sesuai dengan nampaknya bulan / hilal atau perhitungan falak.

Waktu puasa Ramadhan ialah dari mulai terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari, sebagaimana firman Allah   :

“…maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa-apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam ” (QS. Al Baqoroh : 187)

Syarat Wajibnya Puasa Ramadhan

Syarat-syarat wajib puasa Ramadhan antara lain :

  1. Islam; orang kafir tidak diwajibkan untuk puasa dan jika ia masuk Islam, tidak diwajibkan mengqadha (mengganti) puasa yang ditinggalkannya selama ia belum masuk Islam.
  2. Berakal; orang gila tidak diwajibkan untuk puasa sampai kembali berakal.
  3. Baligh (dewasa); anak kecil tidak diwajibkan untuk puasa, namun dianjurkan untuk dibiasakan berpuasa dan kalau berpuasa maka puasanya sah.
  4. Mampu; orang yang sakit dan berbahaya baginya apabila berpuasa atau orang yang sudah lanjut usia tidak diwajibkan untuk puasa.
  5. Mukim; orang yang bepergian (musafir) sejauh jarak diperbolehkannya qashar (meringkas sholat), tidak diwajibkan untuk puasa. Namun, kalau berpuasa maka puasanya sah.
  1. 3. Kapan Anak Kecil Diperintahkan Puasa

Para ulama mengatakan : Anak kecil disuruh berpuasa jika kuat, hal ini untuk melatihnya, sebagaimana disuruh sholat pada umur 7 tahun dan dipukul pada umur 10 tahun agar terlatih dan membiasakan diri.

  1. 4. Syarat Sahnya Puasa

Syarat-syarat sahnya puasa ada 6 :

  1. Islam; tidak sah puasanya orang kafir sebelum masuk Islam.
  2. Akal; tidak sah puasanya orang gila sampai kembali berakal.
  3. Tamyiz ; tidak sah puasanya anak kecil sebelum dapat membedakan (yg baik dengan yg buruk).
  4. Suci dari haidh; tidak sah puasanya wanita yang haidh sebelum berhenti haidhnya.
  5. Suci dari nifas; tidak sah puasanya wanita yang nifas sebelum suci dari nifas.
  6. Niat; tidak sah puasa kecuali diiringi dengan niat sejak malam hari atau sejak sebelum terbit fajar, yaitu dengan meniatkan puasa di salah satu bagian malam.

  1. 5. Sunnah-Sunnah Puasa

Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa antara lain :

  1. Mengakhirkan sahur sampai akhir waktu malam, selama tidak dikhawatirkan terbit fajar.
  2. Segera berbuka puasa bila benar-benar merasa yakin matahari telah terbenam.
  3. Jika dicaci maki, supaya mengatakan : “Saya berpuasa,” dan jangan balas mengejek orang yang mengejeknya, memaki orang yang memakinya, membalas kejahatan orang yang berbuat jahat kepadanya; tetapi membalas itu semua dengan kebaikan agar mendapatkan pahala dan terhindar dari dosa.
  4. Berdo’a ketika berbuka puasa, membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوْقُ وَ ثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Hilanglah haus dan basahlah urat-urat, dan  pahalanya pun telah ditetapkan, Insya Allah.”

(HR. Abu Dawud, Daruquthny dan Al Hakim)

  1. Berdo’a ketika berbuka puasa sesuai dengan yang diinginkan, karena doa orang yg sedang berpuka puasa itu akan dikabulkan oleh Allah.
  2. Berbuka dengan kurma yang masih segar, jika tidak punya maka dengan kurma kering, dan jika tidak punya cukup dengan air.
  1. 6. Orang Yang Boleh Meninggalkan Puasa Ramadhan

Diperbolehkan tidak puasa pada bulan Ramadhan bagi 4 golongan :

  1. Orang sakit yang berbahaya baginya jika berpuasa dan orang bepergian (musafir) yang boleh baginya mengqashar (meringkas) sholat. Tidak puasa baginya adalah afdhal (lebih utama), tapi wajib mengqadha (mengganti) di lain hari. Namun, jika berpuasa maka puasanya sah (mendapat pahala). Firman Allah Ta’ala :

“Maka barangsiapa di antara kamu ada yg sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al Baqarah :184)

  1. Wanita haidh dan nifas; mereka tidak berpuasa dan wajib mengqadha (mengganti) di hari yang lain sebanyak hari yang ditinggalkan. Jika mereka puasa maka puasanya tidak sah.

Sabda Rasulullah r ketika mesifati wanita :

أَ لَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَ لَمْ تَصُمْ ؟ قُلْنَ : بَلَى ،

قَالَ : فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا

“Bukankah jika dia haidh, tidak sholat dan tidak puasa ? Jawab para wanita : “Benar”. Beliau berkata  “Itulah kekurangsempurnaan agamanya.”

(HR.  Muslim)

  1. Wanita hamil dan menyusui; jika khawatir akan kesehatan dirinya atau anaknya maka boleh tidak berpuasa dan membayar fidyah berupa memberi makan setiap harinya seorang miskin sebanyak satu mud. Firman Allah

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin”. (QS. Al Baqarah :184)

Berkata Ibnu Umar t ketika ditanya oleh seorang wanita yang sedang hamil :

أَفْطِرِيْ وَأَطْعِمِيْ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ تَقْضِيْ

“Berbukalah dan berilah makan seorang miskin untuk setiap harinya, dan tidak perlu mengqadha”.

(HR. Daruquthni)

Berkata Ibnu Abbas t ketika melihat seorang budak perempuan yg sedang hamil atau menyusui :

أَنْتِ مِنَ الَّذِيْنَ لاَ يُطِيْقُوْنَ، عَلَيْكِ الْجَزَاءُ وَلَيْسَ عَلَيْكِ الْقَضَاءُ

“Engkau termasuk orang yang tidak mampu berpuasa, engkau wajib bayar fidyah dan tidak perlu mengqadha”. (HR. Daruquthni)

  1. Orang yang tidak kuat berpuasa karena tua atau sakit yang tidak ada harapan sembuh.

Boleh baginya tidak berpuasa dan harus membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya satu mud.

Firman Allah :

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin”. (QS. Al Baqarah :184)

Berkata Ibnu ‘Abbas :

الشَّيْخُ الْكَبِيْرُ وَ الْمَرْأَةُ لاَ يَسْتَطِيْعَانِ أَنْ يَصُوْمَا فيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا

“Kakek dan nenek tua yang tidak mampu berpuasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin.” (HR. Bukhari)

  1. 7. Hukum jima’ (bersetubuh) pada siang hari bulan Ramadhan

Diharamkan melakukan jima’ (bersetubuh) pada siang hari bulan Ramadhan. Barangsiapa yang melanggarnya maka harus mengqadha dan membayar kaffarah mughallazhah (denda berat) yaitu membebaskan hamba sahaya. Jika tidak mendapatkan, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin; dan jika tidak punya maka bebaslah ia dari kaffarah (denda) itu. (HR. Abu Dawud)

  1. 8. Kewajiban Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa, juga yang lainnya, wajib menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan dusta, ghibah (menyebutkan kejelekan orang lain), namimah (mengadu domba), laknat (mendoakan orang agar dijauhkan dari rahmat Allah) dan mencaci maki. Hendaklah ia menjaga telinga, mata, lidah dan perutnya dari perkataan yang haram, penglihatan yang haram, pendengaran yang haram, makan dan minum yang haram. Sehingga puasanya tidak hanya berarti menahan diri dari makan, minum dan syahwat saja. Sabda Nabi r :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ  ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh kepada perbuatannya  meninggalkan makan dan minumnya .” (HR. Bukhary)

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَ الْعَطَشُ

“Banyak orang yang berpuasa namun bagiannya dari  puasanya hanyalah lapar dan haus .”

(HR. Ibnu Majah, Darimy, Ahmad dan Baihaqy)

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَ الشَّرْبِ ،

إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ

أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنِّيْ صَائِمٌ ، إِنِّيْ صَائِمٌ

“Bukanlah puasa itu hanya menahan diri dari makan dan minum, namun puasa itu menahan diri dari perbuatan yang sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu katakanlah : “Aku sedang puasa, Aku sedang puasa .” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Hakim)

Seorang mukmin harus memanfaatkan kesempatan pada bulan Ramadhan ini dengan baik berupa istighfar bertaubat kepada Allah dan memperbanyak amalan sholeh seperti sholat, sedekah, membaca Al Qur’an,  dzikir, do’a dan lain sebagainya.

Sebaliknya, orang yang menjumpai bulan Ramadhan namun tidak dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan baik maka ia akan merugi. Hal ini dikarenakan banyak amalan sholeh yang ia tinggalkan. Bisa jadi ia berpuasa namun meninggalkan sholat, atau sholat  hanya pada bulan Ramadhan saja. Orang seperti ini tidak berguna baginya puasa, haji maupun zakat. Karena sholat adalah sendi agama Islam yang ia tidak dapat tegak kecuali dengannya. Sabda Nabi r :

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَخَرَجَ وَ لَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ ، فَأَبْعَدَهُ اللهُ . قُلْ آمِيْنَ فَقُلْتُ آمِيْنَ

“Jibril mendatangiku dan berkata : “Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapatkan ampunan , maka jika mati ia akan masuk neraka.  Semoga Allah menjauhkannya. Katakanlah : Amin. Maka aku mengatakan: Amin.”

(HR. Ibnu Khuzaimah dan  Ibnu Hibban)

  1. 9. Ancaman Bagi Yang Membatalkan Puasa Ramadhan Dengan Sengaja

Orang yang membatalkan puasa pada bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa ada udzur (halangan) maka wajib baginya untuk mengqadhanya pada hari yang lain dan bertaubat kepada Allah I karena ia telah berbuat dosa besar yaitu meninggalkan suatu kewajiban dengan sengaja. Sabda Rasulullah   :

يقول r : بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ أَتَانِيْ رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبُعَيْ فَأَتَيَا بِيْ جَبَلاً وَ عرًّا فَقَالاَ : اصْعُدْ ، فَقُلْتُ : إِنِّيْ لاَ أُطِيْقُهُ فَقَالاَ :

سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعَدْتُ حَنَّى إِذَا كُنْتُ فِيْ سَوَادِ الْجَبَلِ إِذَا بِأَصْوَاتٍ شَدِيْدَةٍ قُلْتُ : مًا هَذِهِ اْلأًصْوَاتِ ؟ قَالُوْا : هَذَا عوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ انْطَلَقَ بِيْ  فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِيْنَ بِعُرَاقِيْبِهِمْ ، مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ ، تَسِيْلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ: قُلْت: مَنْ هَؤُلاَءِ ؟  قَالَ : الَّذِيْنَ يُفْطِرُوْنَ قَبْلَ تِحْلَةِ صَوْمِهِمْ

“Ketika aku tidur, datanglah dua orang pria kemudian memegang dua lenganku dan membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata : “Naik”, aku katakan : “aku tidak sanggup”, keduanya berkata : “kami akan memudahkanmu”, akupun naik hingga ketika sampai ke puncak gunung, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Akupun bertanya : “Suara apakah ini ?” Mereka berkata : “Ini adalah teriakan penghuni neraka”, kemudian keduanya membawaku, ketika aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki di atas, mulut mereka rusak / robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya : Siapakah mereka ?” Keduanya menjawab : “Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal puasa mereka”. (HR. An Nasa’i, Ibnu Hibban, Al Hakim)

  1. 10. Mengqadha (mengganti) puasa

Barangsiapa yang memiliki hutang puasa di bulan Ramadhan maka wajib baginya untuk mengqadhanya di hari lain meskipun dalam jangka waktu yang lama. Mengqadha puasa Ramadhan tidak wajib dilakukan segera dan juga tidak wajib berturut-turut. Kewajibannya dengan jangka waktu yang luas, berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha :

كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ

فَمَا أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِيْ شَعْبَانَ

“Aku punya hutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.”

(HR. Bukhary dan Muslim)

Akan tetapi bersegera dalam mengqadha itu lebih baik daripada mengakhirkannya, karena masuk keumuman dalil yang menunjukkan untuk bersegera dalam berbuat baik dan tidak menunda-nunda, sebagaimana, firman Allah :

“Dan bersegeralah kalian untuk mendapatkan ampunan dari Tuhan kalian”. (QS. Ali ‘Imran : 133)

Sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang mengakhirkan qadha sampai melewati Ramadhan yang berikutnya maka baginya qadha dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkannya.

Adapun orang yang meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa Nadzar, maka diqadha oleh walinya. Sabda Rasulullah:

مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya berpuasa untuknya.”

(HR. Bukhary dan Muslim)

  1. 11. Hal-hal yang dianjurkan untuk diperbanyak di bulan Ramadhan

Dianjurkan untuk memperbanyak amalan ibadah di bulan Ramadhan, seperti :

  1. Qiyamu Ramadhan (sholat Tarawih) dengan berjamaah.
  2. Sedekah.
  3. Membaca Al Qur’an.
  4. Memberi makan orang yang sedang berpuasa.
  5. Memberi makan orang fakir dan miskin.
  6. Beristighfar (minta ampun) dan bertaubat.
  7. I’tikaf (tinggal di masjid), terutama pada sepuluh hari yang terakhir.
  8. Umrah.
  9. Mempererat silaturahmi.
  10. Sungguh-sungguh dalam menggapai malam Lailatul Qadar.
  11. Dan lain-lain.
  1. 12. Lailatul Qadar

Lailatul Qadar artinya malam kemuliaan, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Firman Allah    :

Tahukah engkau apakah malam Lailatul Qodar itu? Malam Lailatul Qodar itu lebih baik

daripada  seribu bulan”. (QS Al Qadar : 3)

Dianjurkan untuk menggapai malam itu dengan bersemangat memperbanyak amalan ibadah dengan penuh keimanan dan mengharap pahala yang besar.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لهَ ُمَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (sholat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(HR. Bukhary dan Muslim)

Memperbanyak membaca doa :

(( اَللَّهُمَِّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ  ))

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Maha  Pengampun, Engkau suka mengampuni maka ampunilah aku.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah )

Tidak diterangkan secara pasti kapan tepatnya Lailatul Qadar, hanya saja banyak hadits yang menerangkan bahwasanya Lailatul Qadar itu adanya di malam-malam ganjil pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan. Nabi   sendiri tidak dapat memastikannya. Beliau bersabda :

اِلْتَمِسُوْا فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ

فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلىَ السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah di sepuluh hari yang terakhir, jika tidak mampu, jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

تَحَرُّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam Lailatul Qodar di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan .”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Tanda sudah terjadinya Lailatul Qadar bisa diketahui dengan keadaan pada malam itu yang indah, cerah, tidak panas dan tidak dingin serta esok harinya cahaya matahari melemah kemerah-merahan. (HR. Thayalisi, Ibnu Khuzaimah, Bazzar).

Esok harinya matahari terbit dengan memancarkan sinar seperti bulan purnama yg tidak menyilaukan mata. (HR. Muslim).

  1. 13. Zakat Fitrah

Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan orang yang ada di dalam tanggungannya sebanyak satu sha’ = 4 mud (1 mud = 2 telapak tangan orang dewasa yang ditengadahkan) atau sekitar 2,5 kg makanan pokok di suatu daerah seperti kurma, gandum, beras, anggur kering. Adapun waktu pengeluarannya yang paling utama adalah sebelum sholat ‘Ied, boleh juga sehari atau dua hari sebelumnya dan tidak boleh mengakhirkan pengeluaran zakat fitrah setelah sholat ‘Ied .

Penyaluran zakat fithrah ini dibagikan kepada orang-orang yang miskin berupa makanan, tidak boleh berupa uang atau pakaian dan sebagainya

Hikmah dari adanya zakat fithrah adalah sebagai pensucian diri bagi orang-orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang yang miskin untuk mencukupi (kehidupan) mereka pada hari raya yang bagus tersebut.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ r زَكَاةَ الْفِطْرِ عَلىَ الْحُرِّ وَ الْعَبْدِ

11

وَ الذَّكَرِ وَ اْلأُنْثَى وَ الصَّغِيْرِ وَ الْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ،

وَ أَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah    telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya (budak), laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fitrah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘Ied”. (HR. Bukhary dan Muslim)

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ r زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ

وَ الرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمَسَاكِنِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ وَ مَنْ أَدَّاهِا بَعْدَ الصَّلاَةِ – أَيْ صَلاَةِ الْعِيْدِ – فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Rasulullahr telah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari kesia-siaan dan ucapan kotor, dan sebagai pemberi makan kepada fakir miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat ‘Ied maka zakat-nya diterima, dan barangsiapa yang mengeluarkan-nya setelah shoplat ‘Ied maka ia adalah sedekah biasa”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

  1. 14. Hari Raya ‘Iedul Fithri

Setelah sebulan penuh berpuasa maka datanglah hari yang berbahagia yaitu hari raya ‘Iedul Fithri yang mana semua kaum muslimin bergembira. Hal-hal yang dianjurkan untuk dikerjakan di dalam menyambut hari raya ‘Iedul Fithri antara lain :

  1. Mandi.
  2. Memakai pakaian yang bersih dan terbaik yang dimilikinya.
  3. Makan beberapa kurma dalam jumlah bilangan yg ganjil sebelum pergi menunaikan sholat ‘Ied.
  4. Mengucapkan selamat hari raya sesama kaum muslimin, seperti ucapan :

(( تَقََّبَّلَ اللهُ منَِّا وَ مِنْكُمْ  ))

“Semoga Allah menerima (amal ibadah kita semua)”

Atau ucapan lain yang mengandung doa atau kebaikan dan keselamatan.

  1. Pergi ke tanah lapang dengan berjalan kaki dan melalui jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.
  2. Mengumandangkan takbir (sendiri-sendiri) dari rumah sampai dengan tempat sholat ‘Ied atau sampai dengan datangnya imam.
  3. Sholat ‘Iedul Fithri secara berjamaah di tanah lapang.
  4. Mendengarkan khutbah sampai selesai.

Apabila hari raya jatuh pada hari Jum’at sedangkan kita sudah mengerjakan sholat ‘Ied maka shalat Jum’at boleh diadakan dan boleh tidak. Maksudnya hukum sholat Jum’at yang wajib menjadi gugur dan apabila ia memilih meninggalkannya, maka ia tetap wajib untuk mengerjakan shalat Dhuhur. Mu’awiyah bin Abu Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam :

أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ r عِيْدَيْنِ اجْتَمَعَا فِيْ يَوْمَيْنِ ؟ قَالَ : نَعَم . قَالَ : كَيْفَ صَنَعَ ؟ قَالَ : صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمْعَةِ ، فَقَالَ : مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

“Apakah engkau pernah menyaksikan dua hari raya bersama Rasulullah?” Jawab Zaid : “Pernah”. Tanya Mu’awiyah : “Lalu apa yang beliau perbuat ?” Jawab Zaid : “Beliau sholat ‘Ied  kemudian memberi rukhsoh (keringanan) pada sholat Jum’at”. Beliau berkata : “Barangsiapa yang hendak sholat (Jum’at) maka sholatlah”. (HR. Abu Dawud)

  1. 15. Puasa 6 hari di bulan Syawal

Barangsiapa yang puasa Ramadhan sebulan penuh kemudian disambung dengan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal (kecuali tanggal 1 Syawal) maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa setahun penuh, sebagaimana sabda Nabi   :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتَّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan lalu menyambungnya dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka (pahalanya) seperti ia puasa setahun penuh” (HR. Muslim)

  1. 16. Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) dan Maudhu’ (Palsu) Yang Tersebar di Bulan Ramadhan

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانُ السَّنَةَ كُلَّهَا إِنَّ الْجَنَّةَ لَتُزَيَّنُ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ

إِلىَ الْحَوْلِ

“Seandainya para hamba mengetahui apa yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu setahun penuh. Sesungguhnya surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun hingga tahun berikutnya

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan Ibnul Jauzi di dalam “Kitabul Maudhu’at” (2/188-189) dan Abu Ya,la di dalam “Musnad-nya” sebagaimana pada “Al Muthalibul ‘Aaliyah. (BabA-B/tulisan tangan) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas’ud Al Ghifari. Hadits ini maudhu’ (palsu) penyakitnya pada Jabir bin Ayyub, biografinya ada pada Ibnu Hajar di dalam “Lisanul Mizan” (2/101) dan (beliau) berkata “masyhur dengan kelemahan (dha’if)”, dinukilkan (juga) juga padanya dari ucapannya Abi Naim : “Beliau itu suka memalsukan hadits”, dari Bukhari (juga) : ucapan beliau : “Mungkarul Hadits” dan dari AN Nasa’i : “Matruk (ditinggal haditsnya !!)”.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَ قِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا،
مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهَ بِخِصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كََنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ …. وَ هُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ وَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ …. ألخ

“Wahai para manusia sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian), bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan menjadikan sholat malamnya sebagai amalan sunnah, barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan suatu kebaikan maka sama dengan menunaikan perkara yang wajib di bulan yang lain, inilah bulan yang pada awalnya merupakan rahmat dan pertengahannya merupakan ampunan dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka……sampai selesai”.

Hadits ini panjang, diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga (no. 1887) dan Al Muhamili di dalam  ‘Amalinya’ (no. 293) dan Al Ashbahani di dalam ‘At Targhib ‘ (Q/178, B/tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid. Berkata Ibnu Sa’ad : ‘Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah (berdalil) dengannya’, dan berkata Imam Ahmad bin Hanbal : ‘Tidak kuat’, dan berkata Ibnu Mu’in : ‘Dho’if (lemah)’, dan berkata Ibnu Abi Khatsamah : ‘Lemah di segala penjuru’, dan berkata Ibnu Khuzaimah : ‘Jangan berhujjah dengan hadits ini karena jelek hapalannya.’ Demikian di dalam ‘Tahdzibut Tahdzib’.

صُوُمُواْ تَصِحُّواْ

“Berpuasalah kalian niscaya kalian akan sehat”.

Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam ‘Al Kamil’ (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dari Adh Dhohhaak, dari Ibnu Abbas. Dan Nahsyal (termasuk) yang ditinggal (karena) beliau pendusta, dan Adh Dhohhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَ لاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ وَ إِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun tersebut”.

Hadits ini diriwayatkan Bukhary dengan mu’allaq dalam “Shahih-nya” (4/160 – Fathul Bari) tanpa sanad. Ibnu Khuzaimah telah memalsukan hadits ini di dalam “Shahihnya” (19870), dan Tirmidzy (723), dan Abu Dawud (2397), dan Ibnu Majah (1672), dan An Nasa’i  di dalam “Al Kubra” sebagaimana pada “Tuhfatul Asyraaf” (10/373), dan Al Baihaqi (4228) dan Ibnu Hajar di dalam “Tahliqut Ta’liq” (3/170) dari jalan Abil Muthawwas dari bapaknya dari Abu Hurairah.

Ibnu Hajar berkata dalam “Fathul Bari” (4/161) : “Dalam hadits ini ada perselisihan tentang Hubaib bin Abi Tsabit dengan perselisihan yang banyak, hingga kesimpulannya ada tiga penyakit :

Al Idhthirab (goncang), tidak diketahuinya keadaan Abil Muthawwas dan diragukan pendengaran bapak beliau dari Abu Hurairah”.

Inilah beberapa hadits yang didho’ifkan (dilemahkan) oleh para ulama dan para imam ahli hadits, namun walaupun demikian sangatlah disayangkan bahwa kita (sering) mendengar pembacaan hadits-hadits tersebut pada hari-hari di bulan Ramadhan yang diberkahi khususnya, dan selain bulan itu pada umumnya.

Tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian hadits-hadits ini memiliki makna-makna yang benar, yang sesuai dengan syariat kita yang lurus baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah, akan tetapi (hadits-hadits) ini sendiri tidak boleh kita sandarkan kepada Rasulullah  . Sabda beliau  :

مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

”Barangsiapa yang mengatakan sesuatu atas nama aku, yang tidak aku ucapkan, maka bersiaplah mengambil tempat duduknya dari api neraka”.

( HR. Bukhary)

والله أعلم بالصواب

Sumber Rujukan :

v  Zaadul Ma’ad

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

v  Irwa’ul Gholil

Muhammad Nashiruddin Al Albany

v  Shifatu shoumin Nabi r fii Ramadhan

Ali Hasan Ali Abdul Hamid dan Salim bin ‘Ied Al Hilaly

v  Fiqhul Islam wa Adillatuhu

Duktur Wahbah Az Zuhaily

v  Fiqhus Sunnah

Sayyid Sabiq

v  Minhaajul Muslim

Abu Bakar Jabir Al Jazaa’iry

Risalah Ramadhan

Abdullah bin Jaarullah bin Jaarullah Al Jaarullah

Majaalisu Syahri Ramadhan

Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin

Ittihaafu Ahlil Iimaan bi Duruusi Syahri Ramadhaan

Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Duruusu Ramadhan waqofaatu Lish Shoimin

Salman bin Fahd Al ‘Audah

Fatwa Lajnah AdDaimah Lilbuhuts Al‘Ilmiyyah wal Ifta’

diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

“Wahai orang-orang yang beriman,

diwajibkan bagi kalian puasa sebagaimana diwajibkan puasa

bagi orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”

(QS. Al Baqarah : 183)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s