Pakaian Wanita di Depan Mahram

PEMBAGIAN HIASAN

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya melainkan yang  biasa  nampak  dari  perhiasannya.  Dan  hendaklah mereka  menutupkan  kain  kerudungnya  ke  dadanya,  dan janganlah  menampakkan perhiasan mereka  kecuali  kepada suami mereka” (al-Nur:31)

Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah, di dalam tafsir ayat  ini mengatakan,  “Hakekat  permasalahan bahwa  Allah menjadikan hiasan  itu  ada dalam dua macam hiasan. Hiasan  dhahir  dan hiasan  ghairu-dhahir  (bathin). Allah membolehkan  seorang perempuan  memperlihatkan hiasan dhahir kepada selain  suami dan  mahram, tetapi hiasan bathin tidak boleh  diperlihatkan melainkan kepada suami dan mahram.

Kita ketahui dari ucapan Syaikhul Islam, bahwa perhiasan itu ada dua macam.

1. Hiasan dhahir; boleh dilihat selain suami dan mahram

2. Hiasan bathin; hanya boleh dilihat oleh suami dan mahram.

Jika  kita  telah mengenal hiasan  dhahir  dalam  firman Allah illa ma dhahara minha, kita dapat  mengetahui  batas-batas hiasan bathin yang hanya boleh diperlihatkan di  hadapan suami dan mahram.

Inilah pandangan ulama mengenai hiasan dhahir.

Syaikhul  Islam  Ibnu  Taimiyah  berkata,  “Kaum  salaf berbeda  pendapat  mengenai  hiasan dhahir  yaitu; 1)  Ibnu Mas’ud  dan  yang sependapat  dengannya  berkata;  perhiasan dhahir adalah pakaian. 2) Ibnu Abbas dan orang yang  sepakat dengannya  berpendapat  bahwa hiasan dhahir adalah  sesuatu yang  ada di wajah dan kedua telapak tangan, seperti  cincin dan celak.

Apa  yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa  hiasan  dhahir itu  sesuatu  yang  ada di wajah dan  tangan  adalah  mardud (tertolak). Sebab riwayat-riwayat yang menerangkan hal  itu masing-masing diperbincangkan, sebagaimana diterangkan  oleh Syaikh Mushthofa al-Adiy.

Inilah keterangan pada beberapa riwayat Ibnu abbas

1. Ibnu Jarir berkata; Abu Kuraib menceritakan kepada  kami, Muslim  al-Mula’i  berkata kepada kami,  dari  Sa’id  bin Jabir  dari  Ibnu  Abbas, “Dan  janganlah  mereka  mereka menampakkan perhiasan mereka melainkan yang biasa nampak” Ibnu  Abbas berkata; Perhiasan yang biasa  nampak  adalah celak dan cincin.

Sanad dalam riwayat ini dla’if, karena di dalamnya  ada Muslim  al-Mula’i. Namanya adalah Muslim bin Kaisan, dia adalah seorang rawi yang sangat dla’if. Dan juga  terjadi perbedaan  padanya, dia meriwayatkan dari Sa’id mengenai hal tersebut, bahwa Ibnu Abbas tidak mengatakan demikian.

2. Ibnu  Jarir al-Thabari berkata; Ibnu Humaid  menceritakan kepada kami, dia berkata; Harun menceritakan kepada kami, dari Abu Abdullah Nahsyal, dari Dlahhak dari Ibnu  Abbas, dia berkata, “Perhiasan Yang biasa namak adalah celak dan kedua pipi”

Sanad di dalam riwayat ini sangat da’if, sehingga  kami tinggalkan  dan  tidak kami pedulikan lagi.  Ibnu  Humaid (Guru Ibnu Jarir) adalah Muhammad bin Humaid al-Razi. Dia dla’if.  Nahsyal sangat diragukan, dan al-Dlahhak,  yaitu Ibnu Muzahim tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas.

3. Ibnu  Jarir al-Thabari berkata; Ali  menceritakan  kepada kami,  Abdullah  menceritakan kepada kami,  dia  berkata, Mu’awiyah  menceritakan  kepadaku,  dari  Ali  dari  Ibnu Abbas, dia berkata, “Dan janganlah menampakkan  perhiasan melainkan  yang biasa nampak” Ibnu Abbas  berkata,  yaitu wajah, celak mata, pewarna tangan dan cincin. Ini  dinampakkannya di rumahnya kepada siapapun orang yang  menjumpainya

Sanad atsar ini dla’if. Ali bin Abi Thalhah tak  pernah mendengar dari Ibnu Abbas.

4. Ibnu Jarir berkata, al-Kasim menceritakan kepada kami, ia berkata; al-Husain menceritakan kepada kami, ia  berkata, Hujaj  menceritakan kepadaku, dari Ibnu Juraij,  berkata, Ibnu Abbas berkata, “Dan janganlah menampakkan  perhiasan melainkan yang biasa nampak” adalah cincin dan gelang.

Sanad ini juga dla’if. Ibnu Juraij tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas, dan antara keduanya ada jarak waktu

Atsar-atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari  Ibnu Abbas semuanya lemah seperti yang baru saja kita bahas.

Ibnu  Katsir  menyebutkan sanad lain yang sampai  kepada Ibnu  Abbas  tentang ma dhahara minha. Ibnu  Abbas  berkata, “wajahnya, kedua telapak tangannya dan cincin”.

Saya tak habis pikir mengapa sanad ini sampai ke  A’masy padahal  A’masy tidak diketahui menerima riwayat dari  Sa’id bin Jabir dari Ibnu Abbas. Tak seorangpun dari para  penulis kutub  al-Sittah  (Enam  kitab  hadits :Bukhari,Muslim,Abu Daud,Thirmidzi.An Nasa’i&Ibnu Majah) menyebutkan  riwayat A’masy dari Sa’id dari Ibnu Abbas. al-A’masy dikenal sebagai orang  yang mentadliskan hadits. Umumnya dalam  masalah  ini diambil  atsar dari Muslim bin Kaisan al-Mula’i dari  Sa’id. dan  al-A’masy telah menerima riwayat dari Muslim  bin  al-Kaisan,  dan Muslim bin Kaisan menerima dari  Sa’id seperti pada atsar nomor (1). Padahal Muslim bin Kaisan dla’if.

Inilah sejumlah atsar yang saya ketahui dari Ibnu  Abbas di dalam literatur yang saya miliki. Sampai di sini penjelasan Syekh Musthofa.

Dari koreksi di atas, jelaslah bagi kita kelemahan riwayat dari Ibnu Abbas, karena itu kita pegangi pendapat Abdullah  bin  Mas’ud ra. bahwasannya hiasan  dhahir  itu  adalah pakaian. Inilah sanad atsar dari Ibnu Jarir, ia berkata; Ibnu Musanna  menceritakan kepada kami, ia berkata; Muhammad  bin Ja’far  menceritakan kepada kami, ia berkata;  Syu’bah  dari Abu  Ishaq  menceritakan kepada kami, dari  al-Ahwash,  dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata La yubdina zinatahunna  illa ma dhahara minha ia berkata pakaian”

Syaikh Muhammad Amin al-Syanqithi menerangkan perbincangan  tentang hiasan dhahir. Kami akan menyebutkan   sebagian penjelasan tersebut yang menguatkan bahwa arti hiasan dhahir itu  adalah pakaian. Syaikh al-Sanqithi berkata, Arti  dari zinah  adalah sesuatu  yang digunakan  untuk  berhias  oleh perempuan di luar anggota tubuhnya yang asli. Dan  memandang hiasan itu tidak dapat sampai melihat anggota badan  seorang perempuan. Seperti pendapat Ibnu Mas’ud dan yang  sependapat dengannya, bahwa perhiasan dhahir adalah bagian luar  pakaian.  Sebab  pakaian adalah perhiasan di luar  anggota  badan yang  asli, yaitu dhahir dengan hukum darurat  seperti  yang anda  lihat.  Bagi kami pendapat ini  adalah  pendapat  yang paling jelas, paling selamat, dan paling jauh dari  keraguan dan sumber fitnah”

Selanjutnya  al-Sanqithi berkata, “Lafal  zinah  diulang berkali-kali di dalam Alqur’an dengan arti perhiasan di luar anggota  tubuh  yang  dihiasi. Maksud  perhiasan  itu  bukan bagian dari sesuatu yang dihiasi. Firman Allah ; Wahai  Bani Adam, pakailah pakaianmu di setiap  memasuki masjid (Al-A’raf:31)

Katakanlah  siapakah  yang mengharamkan  perhiasan  dari Allah  yang dikeluarkan-Nya untuk  hamba-hamba-Nya (Al-A’raf:32)

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di  bumi sebagai perhiasan baginya (Al-Kahfi:7)

“Sesungguhnya  Kami telah menghias langit yang  terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang (ash-Shaffat:6)

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dengan  kemegahannya (Al-Qasas:79)

Tetapi  kami disuruh membawa beban-beban dari  perhiasan kaum itu (Thaha:87)

Kata  zinah pada ayat tersebut semuanya berarti  sesuatu yang menghiasi sesuatu yang lain, yaitu bukan anggota  tubuh asli  seperti yang anda lihat. Dan arti inilah yang  umumnya digunakan pada lafal zinah di dalam Alqur’an yang  menunjukkan bahwa kata zinah menempati posisi niza’. Maksudnya, arti seperti  ini lah yang lebih dikehendaki di dalam  Alqur’an”. Demikianlah penjelasan al-Sanqithi

Kesimpulan  yang bisa kita tarik dari  pembicaraan  ini, “Bahwa  perhiasan dhahir pada firman Allah illa  ma  dhahara minha (kecuali yang biasa terlihat) bagi selain  suami  dan mahram, yaitu sesuatu yang menghiasi diri seorang  perempuan di luar anggota tubuhnya yang asli. Dan memandang  perhiasan itu tidak menyebabkan dapat melihat anggota badannya, seperti halnya pendapat Ibnu Mas’ud dan orang-orang yang sependapat bahwa perhiasan dhahir adalah bagian luar pakaian.

Sedangkan  perhiasan batin pada firman Allah wa la  yub-dina  zinatahunna illa libu’ulatihinna yaitu  anggota  badan perempuan,  yang merupakan asal ciptaan dan  perhiasan  yang dipakai  oleh  perempuan  pada anggota  badannya  yang  asli sehingga  melihat  perhiasan itu menyebabkan  dapat  melihat anggota  badannya. Seperti halnya pendapat  Syaikhul  Islam, “Bahwa  perhiasan dalam yaitu yang boleh dilihat oleh  suami dan mahram”

Oleh  karena  perhiasan  batin itu  anggota  tubuh  yang merupakan asal ciptaan, muncullah pertanyaan pada siri kita, “Apakah sama ukuran bolehnya melihat anggota badan  permpuan antara suami dengan mahram ?”

Tentu jawabanyya tidak. Inilah yang akan kita  bicarakan berikut dalil-dalilnya, in sya’ Allah.

Perhiasan Batin yang Boleh Dilihat oleh Suami

Dari  A’isyah  ra, berkata, “Saya dan  Rasulullah mandi dari satu bejana, kedua tangan kami bergantian  menciduk air dari dalam bejana karena jinabah”

Dari Aisyah ra, “Aku dan Rasulullah pernah mandi  karena jinabah pada satu bejana dari gelas yang disebut Faraq”

Ibnu  Hajar  mengatakan di dalam Fath  al-Bari,  sebagai komentar  terhadap  hadis yang  diriwayatkan  oleh Bukhari, “Dengan  hadits ini al-Dawudi berdalil atas bolehnya  seorang laki-laki melihat aurat isterinya, demikian pula sebaliknya. Ini  dikuatkan oleh riwayat Ibnu Hibban dari jalan  Sulaiman bin Musa bahwasannya dia (Sulaiman) ditanya tentang  seorang laki-laki melihat kemaluan isterinya, maka dia menjawab, Aku menanyakan kepada Atha’ lalu ia menjawab, aku bertanya  pada Aisyah, lalu dia menyebutkan hadits yang semakna dengan hadis ini. Itulah nash dalam masalah ini, Allah-u a’lam-u

Al-Qurthubiy  berkata,  Suami dan  tuan  melihat  hiasan perempuan dan lebih dari hiasan-hiasan karena seluruh bagian tubuh  perempuan halal untuk dinikmati dan  dilihat.  Karena itulah bu’ulah disebut pertama-tama pada ayat di atas. Sebab mereka  boleh mendatangi isteri lebih dari sekedar  melihat. Firman  Allah “Dan orang-orang  yang  menjaga  kemaluannya, kecuali  terhadap  isteri-isterinya atau budak  yang  mereka miliki, maka sesunggunya mereka dalam hal ini tiada tercela” (al-Mukminun:5-6)

Jelaslah  bagi kita penjelasan di atas, bahwa  perhiasan batin  yang halal untuk dilihat suami adalah  seluruh  tubuh perempuan,  termasuk kemaluan. Perlu diketahui  bahwa  hadits yang  diriwayatkan  oleh Abu Hurairah  secara  marfu’  yaitu “Jika  salah seorang di antaramu bersetubuh  maka  janganlah melihat  kemaluan karena perbuatan itu menyebabkan  kebutaan dan  janganlah banyak bicara karena akan  menyebabkan  gagu” Syaikh  al-Albani mengatakan bahwa ini adalah hadits  Maudlu’ (palsu)

Dalil-dalil tentang batas perhiasan batin yang boleh  diperlihatkan kepada mahram

Dalil Pertama

Hadits  A`isyah dari Abu Salamah, dia berkata, “Saya  dan saudara   A`isyah  menemuinya,  lalu   saudara   A`isyah menanyakan  cara mandi Rasulullah padanya.  A`isyah meminta sebuah bejana yang berisi sekitar satu sha` air kemudian ia mandi dan mengalirkan air ke atas  kepalanya sedangkan antara kita dan dia ada hijab(dinding).

Ibnu  Hajar berkata, “al-Qadli ‘Iyadh  mengatakan,  teks hadits ini menunjukkan bahwa mereka melihat apa yang  dilakukan  A`isyah  pada kepalanya dan bagian  atas  tubuh,  sebab bagian  tersebut adalah bagian yang halal untuk  diperlihatkan. Jika tidak, A`isyah tak akan mandi dengan adanya mereka berdua, sebab A`isyah adalah bibi sesusuan Abu Salamah, yang disusui oleh saudara perempuan A`isyah, yaitu Ummu  Kultsum. Beliau  hanya menutup bagian bawah tubuhnya yang  tak  halal untuk dilihat oleh mahram.

Dari  hadits  ini jelaslah bahwa  A`isyah  memperlihatkan kepala  dan bagian atas tubuhnya kepada anak susuan  saudara perempuannya, Abu Salamah dan saudara laki-laki sesusuannya, Abdullah. Inilah perhiasan batin yang boleh diperlihatkan.

Melihat Rambut Mahram

al-Nasa’i  mengatakan dalam buku Isyrat al-Nisa’,  Ahmad bin Sa’id mengabarkan kepadaku, ia berkata; Wahab bin  Jarir mengabarkan  kepada kami, ia berkata; Qurrah bin Khalid  me-ngabarkan kepada kami, dari Abu Hamid bin Jabir, dari  bibinya Shafiyah binti Syaibah, ia berkata; Aisyah  menceritakan kepada kami, ia berkata; Aku mengadu,“Hai Rasulullah , orang-orang kembali dengan dua manasik (haji dan umrah) sedang aku kembali hanya dengan satu manasik (haji saja)” Maka Rasulullah memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar untuk  membawaku ke Tan’im, maka dia memboncengkanku di belakangnya di  atas onta  pada suatu malam yang sangat panas, maka  aku  membuka kudungku  dari leherku lalu ia memegang kakiku dan  memukulkannya  pada ontanya, maka aku bertanya, apakah kau  melihat seseorang ? Maka aku berhenti sampai Tan’im maka aku  berihram dengan umroh”

Dalam  hadits  ini dikatakan bahwa Aisyah  membuka  kerudungnya dari lehernya di depan saudara laki-lakinya,  Abdurrahman. Ini mennunjukkan bolehnya seorang laki-laki  melihat rambut  mahramnya  sebagaimana disebutkan oleh  Imam  Nasa’i dalam bab tersendiri.

Imam  Bukhari  mengatakan di dalam kitab  Maghazi  hadits nomor  4108,  Ibrahim  bin Musa  menceritakan  kepada  kami, Hisyam  mengabarkan  kepada kami dari Ma’mar  dari  al-Zuhri dari  Salim  dari  Ibnu Umar, ia berkata;  Dan  Ibnu  Thawus mengabarkan kepadaku dari Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar, ia  berkata, “Aku menemui Hafshah dan ikatan  rambutnya  meneteskan  air, aku katakan; sesungguhnya pada  urusan  umat telah terjadi seperti apa yang kamu lihat, sedang aku  tidak ikut campur sedikitpun pada masalah itu. Maka Hafshah berkata; Susullah,  sesungguhnya  mereka  menantikanmu  dan  aku khawatir sikap diammu terhadap mereka menjadikan perpecahan. Maka  Hafshah  tak  meninggalkannya (Ibnu  Umar) hingga  ia pergi. Ketika umat telah bercerai-berai (berselisih), Mu’awiyah berpidato seraya berkata, “Siapa yang hendak berbicara pada  masalah  (kekhalifahan) ini hendaklah  ia  menampakkan diri,  sebab  kami lebih berhak dari padanya  (Abdullah  bin Umar)  dan  dari  pada ayahnya. Habib  bin  Salmah  berkata; Hendaklah kamu menjawab (pernyataan)nya ? Abdullah  berkata; Maka aku melepaskan pakaian rabwahku dan aku hendak mengatakan;  Yang lebih berhak atas masalah ini daripadamu,  adalah orang yang telah memerangimu dan ayahmu untuk membela Islam. Maka  aku  khawatir untuk mengatakan suatu  kata  yang  akan memecah  belah  persatuan,  menimbulkan  pertumpahan   darah (peperangan) dan dipahami tidak seperti yang aku  maksudkan, maka  aku  ingat apa yang dijanjikan Allah di  sorga, Habib berkata, kau terpelihara dan terjaga (dari dosa)”

Kata  naswatuha  tanthifu  artinya  jalinan  rambut  itu meneteskan air seolah-olah habis dari mandi.

Dalam hadits ini Ibnu Umar melihat ikatan rambut  Hafshah atau jalinan rambutnya dan ia meneteskan air sedangkan  Ibnu Umar  adalah  saudara laki-lakinya.  Hadits  ini  menunjukkan bolehnya seorang laki-laki melihat rambut mahramnya.

Dalil Kedua

Hadis  Ali bin Abi Thalib,”Dari Ali ra,  bahwa  Fathimah mengeluh karena tangannya timbul kapal bekas tumbukan,  lalu ia  datang kepada nabi untuk meminta pembantu  tetapi  tidak dia  jumpai. Maka ia lalu mengadukan kepada A`isyah,  ketika nabi datang  A`isyah  menyampaikan keluhan Fatimah  kepada Nabi . Ali berkata, kemudian nabi mendatangi kami,  pada-hal  kami telah ada di tempat tidur, maka aku  akan  bangun, nabi  berkata, “Tetaplah di tempatmu” lalu beliau duduk  di antara  kami hingga terasa dingin telapak kaki  Rasullah di dadaku,  kamudian Nabi bersabda, “Maukah aku ajarkan  kepada kalian  sesuatu yang lebih baik dari pembantu ? Jika  kalian akan  tidur  bertakbirlah  34 kali,  bertasbihlah  33  kali, bertahmidlah 33 kali ini lebih baik bagi kalian dari seorang pembantu”

Ibnu  Hajar mengomentari kata-kata Ali“Beliau mendatangi  kami  padahal kami telah ada di  atas  ranjang”, dan tersebut  di dalam riwayat Ubaid bin Amr dari Ali pada  Ibnu Hibban ada tambahan, “Maka Nabi mendatangi kami sedang  pada kami hanya ada sepotong kain, jika kami pakai memanjang maka akan  tampak keluar sisi kami, dan jika kami  pakai  melebar maka kepala dan kaki kami akan keluar darinya”

Pada  riwayat al-Sa’ib, “Ali dan Fathimah  pulang,  lalu Nabi mendatangi keduanya sedang keduanya  telah  masuk pada selimut mereka, Jika mereka menutup kepala mereka  akan tampak kaki mereka dan jika mereka menutup kaki mereka  maka kepala mereka akan terbuka”

Selanjutnya Ibnu Hajar berkata mengenai kesimpulan  yang dapat  diambil dari hadis di atas, “Pada hadis itu  terdapat penjelasan adanya rasa kasih-sayang yang sangat kuat  kepada anak perempuan dan menantu laki-laki, dan  adanya  persatuan yang  utuh dengan terbukanya kudung dan hijab di mana  Rasulullah tidak  mengusir  keduanya dari  tempat  mereka  agar mereka berpindah dari posisi mereka semula di atas ranjang.”

Dari  hadits ini dapat diambil pengertian  bahwa  seorang perempuan  boleh membuka kudung dan hijab di depan  ayahnya, sebagaimana  disebutkan  oleh  Ibnu Hajar.  Ini  yang  dapat diambil dari riwayat Ibnu Hibban, tentang kebolehan  membuka kepala dan telapak kaki wanita di hadapan ayahnya pada  kata Idza  labisna  ‘ardlan kharajat minhu ru’usuna  wa  aqdamuna (jika  kami  pakai melebar maka kepala dan  kaki  kami  akan keluar darinya).

Dalil Ketiga

“Dari  Aisyah bahwa Aflah saudara Abu Qais datang  untuk minta  ijin kepadanya, sedang ia adalah  paman  sesusuannya, setelah turun ayat tentang hijab, maka aku enggan  mengijinkannya  untuk menemuiku. Ketika Rasulullah datang,  aku beritahukan apa yang telah aku lakukan, maka beliau memerintahkanku untuk mengijinkannya”.

Ibnu  Hajar al-Asqalani berkata pada penjelasan kata  Fa amarani an adzina lahu telah dikeluarkan oleh Muslim melalui jalan Yazid bin Abi Habib dari `Irak, dari Urwah pada  kisah ini, maka Nabi bersabda, “Janganlah kamu berhijab  darinya,  sesungguhnya diharamkan karena sesusuan seperti  diharamkan karena nasab”.

Kemudian  Ibnu Hajar berkata, “di dalam hadits  itu  terkandung  kewajiban bagi perempuan untuk mengenakan hijab  di hadapan lelaki ajnabi dan disyari’atkan memberi ijin  kepada mahramnya”

Pada  hadits  ini dan pada riwayat  muslim,  kita  dapati bahwa Nabi memerintahkan A`isyah untuk tidak berhijab di hadapan  pamannya  meskipun dari sesusuan  sebagaimana  pada sabda  beliau La tahtajibi minhu. (Janganlah  kau  berhijab darinya) dan  telah diketahui bahwa  seorang  perempuan  di rumahnya  kadang-kadang  membuka  kepalanya,  lengannya  dan kedua telapak kakinya.

Dalil Keempat

Imam  Nasa’i berkata, al-Husain bin  Hurais  Mengabarkan kepada  kami,  ia berkata; al-Fadl-l bin  Musa  menceritakan kepada kami, dari Ju’aid bin Abdurrahman, ia berkata;  Abdul Malik  bin  Marwan bin al-Harits bin Abu  Zubab  mengabarkan kepada  kami, ia berkata; Abdullah Salim Sablam  mengabarkan kepadaku,  ia berkata, Aisyah ra mengagumi  kejujuran  Salim Sablan  dan  beliau sering  memerintahkan  sesuatu  padanya. Pernah Aisyah memperlihatkan padaku bagaimana Rasulullah berwudlu,  Maka Aisyah berkumur-kumur dan memasukkan air  ke hidungnya  tiga kali, membasuh mukanya tiga  kali,  kemudian membasuh  tangan kanannya tiga kali dan tangan kirinya  tiga kali, dan meletakkan tangannya pada bagian kepalanya  sambil mengusapkan kedua tangannya ke telinga kemudian dilakukannya pula pada kedua pipinya, kata Salim, “Aku pernah mendatanginya untuk menebus diri, waktu itu Aisyah tidak  menyembunyikan dirinya dari aku dan ia duduk di hadapanku serta  bercakap-cakap denganku sampai aku pernah datang pada suatu  hari dan  kukatakan padanya, “Do’akan aku mendapat  berkah  wahai Ummul  Mu’minin, Tanya Aisyah, “Ada apa dengan engkau  wahai Salim” Jawab Salim “Aku telah dimerdekakan oleh Allah Kata Aisyah, “semoga  Allah memberi  berkah  kepadamu”  kemudian Aisyah  menurunkan tabirnya dari aku dan sejak itu  aku  tak pernah melihat wajahnya lagi.

Imam  al-Sindi mengatakan dalam komentar terhadap  hadits tersebut, “Salim adalah hamba salah seorang kerabat A`isyah, dan A`isyah memandang seorang hamba laki-laki boleh  menemui tuan puterinya dan famili-familinya, wal’Lahu a’lam.

Di dalam hadits ini kita melihat bagaimana seorang  hamba laki-laki  boleh  melihat kepala dan  anggota-anggota  wudlu tuan  puterinya sebagaimana kata Salim Sablan “Maka  A`isyah memperlihatkan  padaku…” Dengan  demikian  hamba  (budak) adalah salah seorang mahram, sebagaimana telah saya sebutkan di awal.

Dalil Kelima

1. Riwayat Abu Dawud, Qutaibah bin Sa’id dan Ibnu  Muwahib menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan,  al-Laits menceritakan kepada kami, dari Abu Zubair bahwa Ummu Salamah meminta  ijin  Rasulullah untuk  dicanduk  (dibekam),  maka Rasulullah memerintahkan Abu Thaybah untuk mencanduknya, Jabir berkata, “Aku mengira Rasulullah mengatakan, “Dia adalah saudara laki-laki sesusuannya atau pemuda yang  belum bermimpi”

2.  Riwayat  Abu Dawud, Muhammad  bin  Isa  meriwayatkan kepada  kami, Abu Jami’ Salim bin Dinar meriwayatkan  kepada kami,  dari  Tsabit, dari Anas “Bahwa  Nabi mendatangi Fatimah dengan membawa seorang hamba yang diberikan  kepadanya.  Anas berkata, Sedangkan Fatimah ketika itu  mengenakan pakaian  yang  jika dia tutupkan kepalanya maka  tak  sampai pada kedua kakinya, dan jika dia tutupkan kedua kakinya maka tidak  sampai  pada kepalanya. Ketika nabi melihat  apa yang  terjadi,  beliau bersabda;  Sesungguhnya  tak  apa-apa bagimu  keadaan  demikian  karena ini  hanyalah  ayahmu  dan budakmu

Ibnul  Qayyim  berkata,  Hadits  ini  menunjukkan   bahwa seorang  budak  lak-laki boleh melihat tuan  puterinya,  dan budak adalah salah satu mahramnya, boleh berkhalwat  dengannya, bepergian dengannya dan boleh melihat yang hanya  boleh dilihat oleh mahram.

Al-Kandahlawi  berkata; Bahwa bercanduk (berbekam)  pada umumnya dilakukan pada anggota badan yang tak boleh diperlihatkan oleh seorang perempuan kepada lelaki ajnabi,  seperti pada  rambut  kepala,  tengkuk, atau  betisnya.  Pada  hadits tersebut  dinyatakan  bahwa mahram  boleh  melihat  sebagian anggota  badan  yang diharamkan bagi ajnabi,  demikian  pula anak-anak.

Dari kedua hadits tersebut, kita melihat bahwa  anak-anak boleh melihat rambut kepala, tengkuk atau kedua betis perempuan karena dia termasuk mahramnya, sebagaimana penjelasan al-Kandahlawi

Dalil Keenam; Meninjau devinisi Perhiasan

Dari definisi perhiasan batin yang boleh dilihat oleh suami dan mahram, dan juga sesuatu yang menghiasi anggota tubuh yang asli. Dan melihat perhiasan itu menyebabkan harus melihat bagian tubuh perempuan, maka yang digunakan perempuan untuk menghiasi anggota badannya adalah

Anting : Memandang anting menyebabkan harus melihat kedua telinga perempuan

Kalung : Memandangnya menyebabkan harus melihat  leher dan punggung

Gelang : Memandangnya mengyebabkan harus melihat kedua tangan

Gelang kaki : Memandangnya menyebabkan harus melihat  kedua betis

Pewarna kuku : Memandangnya menyebabkan melihat telapak tangan dan telapak kaki

Celak : Memandangnya menyebabkan melihat wajah

Jadi, seorang mahram boleh melihat seluruh perhiasan yang telah kami sebutkan.

Kesimpulan dari dalil-dalil di atas

1.      Bagi suami, ia boleh melihat seluruh tubuh isterinya karena setiap bagian tubuh isterinya halal bagi suami untuk dinikmati dan dilihat, termasuk melihat kemaluannya. Ini khusus bagi suami seperti yang telah kami sebutkan.

2.      Seorang perempuan boleh meperlihatkan kepala dan bagian atas tubuhnya di depan saudara, anak saudara perempuannya dan mahram yang lain. Ini kesimpulan yang dapat diambil dari dalil nomor satu.

3.      Seorang perempuan boleh membuka kudung dan hijabnya dengan memperlihatkan kepala dan telapak kaki di depan ayahnya dan mahram-mahram lainnya. Ini kesimpulan dari dalil kedua

4.      Seorang perempuan boleh tidak berhijab di hadapan pamannya meskipun paman sesusuan. Demikian juga semua mahram lain dari jalur sesusuan. Ini kesimpulan dari dalil nomor tiga

5.      Seorang perempuan boleh menampakkan kepalanya dan anggota wudlu di hadapan hamba (budak)nya dan terutama di hadapan mahram-mahram yang lain. Ini kesimpulan yang kita tarik dari dalil nomor empat

6.      Anak laki-laki boleh melihat perempuan selama anak itu belum bermimpi, karena dia termasuk mahram seperti yang dinyatakan dalam dalil kelima dan firman Allah Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan” (An-Nur:31)

7.      Mahram seorang perempuan boleh memperlihatkan tempat-tempat perhiasan seperti telinga, dan betis, seperti dinyatakan dalam hadits keenam

Seorang perampuan hendaklah mengetahui bahwa auratnya di hadapan saudaraya muslimah adalah antara pusat sampai lutut. Karena itu ia boleh menyusui anak di hadapan saudarinya muslimah, tetapi  tak boleh melakukan hal itu di hadapan mahram lain. Mari kita menela’ah pesan Ibnul Qayim al-Jauziyah, “Tak halal bagi seorang perempuan melihat anggota badan perempuan lain dari lutut hingga pusat, meskipun terhadap ibunya atau anaknya, kecuali jika anak itu masih kecil”

Al-Qurthubi berkata; orang-orang rasionalis berkata; Aurat perempuan terhadap hambanya dari pusat hingga lutut, Ibnul Arabi berkata, Agaknya mereka menganggap perempuan itu seperti halnya lelaki, atau mereka anggap budak laki-laki itu seperti halnya perempuan. Padahal Allah telah mengharamkan perempuan secara mutlak, untuk dilihat atau dinikmati, kemudian Allah mengecualikan larangan menikmati itu pada suami dan pemiliknya (tuannya). Dan kemudian mengecualikan larangan memperlihatkan perhiasan pada 12 golongan mahram, hamba adalah salah seorang di antara dua belas golongan itu. Ini adalah pandangan yang keliru dan ijtihad yang jauh dari kebenaran

Dari kesimpulan ini, maka ketahuilah wahai saudariku muslimah, bahwasannya kau boleh menampakkan sebagian perhiasan batinmu, seperti kepala, wajah, leher, tangan, betis di hadapan mahram-mahrammu, meskipun mereka hanyalah mahram sesusuan. Ketahuilah pula bahwa auratmu di depan perempuan muslimah adalah antara pusat hingga lutut. Tetapi jika tindakanmu membuka perhiasan batin atau ketika menyendiri dengan salah seorang mahram itu tidak aman bagi timbulnya fitnah, atau kau takutkan salah seorang mahrammu menceritakan keadaanmu kepada lelaki ajnabi(laki-laki asing/bukan mahram), maka berhijablah. Bahkan wajib bagimu untuk berhijab dalam keadaan seperti itu, seperti dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah.

Tetapi berhati-hati ketika kamu duduk-duduk dengan sesama perempuan. Janganlah kamu mudah beranggapan, “Perempuan ini seperti halnya diriku, karenanya tak apa-apa aku berada di dalam kamar mandi bersama dengannya, meskipun aku dalam keadaan telanjang, atau membuka bagian tubuh antara pusat dan lutut”. Hati-hatilah untuk mengatakan, “Ini adalah anakku… atau ini adalah saudara perempuanku…”. Dalam keadaan bagaimana pun juga ini tak boleh dilakukan, kecuali jika anak itu masih kecil seperti dikatakan oleh Imam Ibnul Jauzi

SIAPA SAJAKAH YANG TERMASUK MAHRAM

Ibnu  Atsir menerangkan arti Mahram  dengan  menyebutkan hadits:  “Janganlah seorang perempuan bepergian melainan bersama  mahramnya” Dalam riwayat  lain dikatakan  bersama “penjaganya”

Kata Dzu Mahram artinya orang yang tak  halal untuk  menikahinya karena kekerabatan seperti  anak,  bapak, saudara, paman dan keturunan seterusnya.

An-Nawawi, ketika beliau dihadapankan suatu  pertanyaan: Apa hakekat mahram bagi perempuan, yang diperbolehkan  melihat dan berkhalwat (menyendiri) dengannya? Beliau menjawab, “Yaitu semua orang yang diharamkan menikahinya  untuk  selamanya  dengan sebab-sebab yang mubah karena  kehormatannya”. Kata  untuk  selamanya lepas dari saudara  perempuan  isteri (ipar).  Dan  kata dengan sebab yang mubah  artinya  menjaga dari  memadu antara ibu yang telah dikumpuli dengan  syubhat dan anak perempuannya. Keduanya adalah mahram untuk  selamanya tetapi bukan dengan sebab mubah. Sesungguhnya persetubuhan syubhat tidak disebut mubah atau haram karena itu  bukan tugas mukallaf, sebab orang yang lupa bukan mukallaf. Adapun kata  karena  kehormatannya lepas dari orang  yang  dili’an. Sebab  dia adalah mahram selamanya karena sebab yang  mubah, tetapi bukan karena kehormatannya melainkan sebagai  hukuman pada keduanya, Allahu a’lam.

Ibnu Hajar berkata, “Mahram bagi perempuan adalah  semua orang  yang  haram menikahinya untuk selamanya  kecuali  ibu yang  disetubuhi dengan syubhat dan dili’an. Keduanya  haram dinikahi selamanya tetapi bukan mahram. Demikian juga  Ummahatul  Mukminin (isteri-isteri Rasulullah ) juga haram  dinikahi  tetapi  bukan  mahram. Keluar  dari  ikatan  selamanya adalah  saudara perempuan dari seorang  perempuan,  bibinya, anak perempuannya, jika ada ikatan pernikahan (akad)  dengan ibunya tetapi tidak disetubuhi.

Syaikhul  Islam  Ibnu Taymiyah  berkata,  Mahram  adalah orang-orang yang haram menikahi untuk selamanya.

Firman Allah “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya melainkan yang biasa nampak dari perhiasannya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera  mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera  saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap  wanita)  atau anak-anak yang  belum  mengerti tentang aurat wanita” (al-Nur:31)

Ibnu  Katsir  berkata:  libu’ulatihinna artinya  suami-suaminya.  Dan dari firman Allah Aw  aba`ihinna… hingga akhir  ayat.  Ibnu Katsir berkata, “semuanya  adalah  mahram bagi  seorang  perempuan  sehingga  ia  boleh  meperlihatkan perhiasannya kepada mereka selama tanpa dengan tabarruj.

Tafsiran mahram selengkapnya adalah sebagai berikut:

1: Ayah

2: Ayah suami, kakek dan terus ke atas

3: Anak laki-laki seorang perempuan dan  laki-laki keturunannya. Demikian juga anak laki-laki dari anak perempuannya, dan terus ke bawah.

4: Anak laki-laki dari suami, cucu  laki-laki suami  dan terus ke bawah baik dari jalur laki-laki  atau perempuan.

5: Saudara laki-laki seorang perempuan

6: Anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki, berikut keturunannya

7: Anak-anak laki-laki dari saudara perempuan, berikut keturunannya

8: Ibnu Katsir berkata, “Mujahid  menerangkan firman Allah “Aw Nisa’ihinna”, yaitu wanita-wanita muslimat,  bukan  wanita musyrik. Karena  itu  seorang  wanita muslimah  tidak boleh membuka auratnya di hadapan  wanita musyrik. “Ibnu Katsir menambahkan, “Maksudnya  memperlihatkan  hiasannya bagi wanita muslim bukan  wanita-wanita ahlu dzimmah”

Al-Qurthubi berkata, “Seorang mukminah tidak halal  mem-buka bagian tubuhnya di hadapan perempuan musyrik kecuali jika  ia  budaknya. Ibnu Juraij, Ubadah  bin  Nusai,  dan Hisyam  al-Qari membenci seorang muslimah  yang  mencium atau memperlihatkan auratnya kepada perempuan Nasrani.

Ibnu  Katsir  berkata, Sa’id  bin  Mansur mengemukakan suatu riwayat di dalam kitab Sunannya. Isma’il bin Ayyasy menceritakan kepada kami, Hisyam bin al-Ghaz menceritakan kepada  kami, dari Ubadah bin Nusay, dari ayahnya,  dari al-Harits  bin  Qays, bahwa Umar bin  al-Khattab menulis surat kepada Abu Ubaidah; “Amma Ba’d, Sesungguhnya  telah sampai berita kepadaku bahwa perempuan muslimah masuk  ke dalam  kamar  mandi  bersama  dengan  perempuan-perempuan musyrik.  Peristiwa  itu terjadi di  daerahmu.  Maka  tak halal bagi perempuan-perempuan yang beriman kepada  Allah dan  hari akhir untuk melihat  aurat  perempuan-perempuan musyrik, melainkan sesama penganut agamanya.

9:  Ibnu Jarir berkata,  “Budak-budak  dari perempuan  musyrik.  Mereka boleh  melihat  perhiasannya, meskipun dia musyrik karena dia seorang budak.  Demikianlah pendapat Sa’id bin Musayyib.

Syaikhul  Islam  Ibnu Taymiyah berkata, Aw  Ma  malakat Aimanuhun menunjukkan bahwa seorang muslimah boleh  memperlihatkan  hiasan bathin pada budaknya. Dalam  hal  ini ada dua pendapat:

(1)  Yang  dimaksudkan di sini adalah  budak  perempuan dari ahli kitab, seperti pendapat Sa’id bin al-Musayyib.

(2) Ada yang berpendapat, maksudnya adalah budak  laki-laki  seperti pendapat Ibnu Abbas dll. Ini  adalah mazhab Imam Syafi’i juga ada dalam riwayat lain dari Imam Ahmad. Pendapat  ini mengkonsekuensikan bolehnya  seorang  budak melihat tuan putrinya

10:   Ibnu  Katsir   berkata, “Seperti pelayan-pelayan dan pengikut-pengikut yang tidak sempurna akalnya. Dalam keadaan seperti ini mereka  tidak memiliki keinginan pada perempuan, dan tidak  menimbulkan syahwat perempuan”

Ibnu  Abbas  berkata, “Yaitu  orang-orang  yang  sangat lemah  ingatannya  yang  tak  memiliki  syahwat.  Mujahid berkata,  “Mereka  adalah orang-orang yang  lemah  akal”. Dan  Ikrimah berkata, “Mereka adalah banci yang  zakarnya tak dapat berdiri”.

Banci yang dicirikan oleh Ikrimah itu  tidak  termasuk kategori  Ghairu Uli al-Irbah berdasarkan  hadits  riwayat Ahmad,  “Mu’awiyah menceritakan kepada kami,  Hisyam  bin Urwah menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Zaynab binti  Abu  Salamah, dari Ummu Salamah,  bahwasannya  dia berkata; “Rasululah menjumpai dia (Ummu Salamah)  sedang padanya  ada  seorang  banci  dan  Abdullah  bin  Umayyah –saudaranya, lalu banci tersebut berkata, Hai  Abdullah, jika Allah membukakan Ta’if pada kalian suatu saat  kelak hendaklah kau ambil putri Gaylan. Sesungguhnya dia  menghadap  dengan  empat  dan  membelakangi  dengan   delapan (maksudnya  tampak montok karena gemuk sekali) Maka  Nabi bersabda kepada Ummu  Salamah “Orang itu jangan boleh masuk menemuimu lagi”

11:  Ibnu   Kasir berkata, “Karena kekakanak-kanakannya mereka tak mengetahui hal ihwal perempuan berikut auratnya, seperti  suaranya  yang merdu, lenggak-lenggoknya dan  gerakan-gerakannya. Bila seorang anak kecil belum mengerti itu, maka tak apa-apa ia melihat perempuan. tetapi bila telah mendekati masa  balig, telah mengetahui hal-hal tersebut dan  dapat membedakan  baik  dan buruk, maka  janganlah  ia  melihat wanita.

Disebut  dengan  anak-anak selama belum  bermimpi  atau memimpikan wanita.

Apakah Paman Termasuk Mahram ?

“Diharamkan bagimu menikahi ibu-ibumu, anak-anak  perempuanmu,  saudara-saudara  perempuanmu,  bibi-bibi   dari pihak  bapakmu, bibi-bibimu dari pihak ibumu,  anak-anak perempuan   saudara  laki-lakimu,  anak-anak   perempuan saudara perempuanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, dan saudara-saudara  perempuan  sesusuan serta  ibu-ibu  isterimu (ibu  mertua), anak-anak isterimu yang  dalam  pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi  jika kamu belum bercampur dengan isterimu itu dan sudah  kamu ceraikan  maka tidak ada dosa bagimu untuk  menikahinya, dan  diharamkan bagimu menikahi isteri-isteri anak  kandungmu  (menantu), dan memadukan (dalam perkawinan)  dua perempuan  yang bersaudara, kecuali yang  telah  terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (al-Nisa’:23)

Dalam  ayat  ini Allah mengharamkan  anak-anak  saudara laki-laki dan anak saudara perempuan, atau dengan kata  lain anak perempuan diharamkan menikahinya bagi pamannya.

Menurut Al-Qurtuby, jumhur berpendapat bahwa paman boleh melihat  hiasan  wanita seperti  halnya  mahram-mahram  yang lain, dalam batas-batas yang boleh mereka lihat.

Hadits  Aflah  paman  A’isyah sesusuan  ini  menguatkan pendapat tersebut, sebagaimana tersebut di dalam Shahih  al-Bukhari, In sya` Allah hadits tersebut akan saya sebutkan  di belakang.

Ibnu  Hajar berpendapat ketika memberi  penjelasan  pada hadis  tersebut, “Di dalamnya ada kewajiban  seorang  wanita berhijab  dari  laki-laki ajnabi dan  disyari’atkannya  izin bagi seorang mahram atas mahramnya”

Di sini nampak bahwa al-Hafiz Ibnu Hajar  mengategorikan paman sebagai mahram.

Apakah Suami Anak Menjadi Mahram bagi Ibunya ?

Firman Allah “Diharamkan bagimu menikahi ibu-ibumu, anak-anak  perem-puanmu, saudara-saudara perempuanmu, bibi-bibi dari  pi-hak  bapakmu,  bibi-bibimu dari pihak  ibumu,  anak-anak perempuan saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan  sau-dara perempuanmu, ibu-ibu yang menyusuimu, dan  saudara-saudara perempuan sesusuan serta ibu-ibu isterimu” (al-Nisa’:23)

Ibnu Kasir berkata; “Jumhur ulama berpendapat bahwa  ibu isteri (mertua) diharamkan karena adanya akad nikah”

Ibnu  Abu  Hatim  berkata, “Ja’far  bin  Muhammad  Harun  menceritakan  kepada kami, Abdul Wahab  menceritakan  kepada kami, dari Sa’id dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu  Abbas, bahwa dia pernah berkata; Jika seorang laki-laki menceraikan isterinya  sebelum bersetubuh dengannya atau isterinya  mati maka ibunya tidak halal baginya”

Apakah Suami Ibu Menjadi Mahram bagi Anak Laki-lakinya ?

“Anak-anak  isterimu  yang  dalam  pemeliharaanmu   dari isteri  yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu  belum bercampur  dengan isterimu itu dan sudah  kamu  ceraikan maka  tidak  ada  dosa bagimu  untuk  menikahinya” (Al-Nisa’:23)

al-Hafiz  Ibnu  Hajar berkata, “al-Rabibah  adalah  anak perempuan isteri seorang laki-laki”. Maksudnya, anak  perempuan  isteri  dari laki-laki lain. Tetapi  suami  ibu  tidak termasuk mahram bagi anak perempuannya kecuali jika memenuhi dua  syarat, seperti disebutkan Ibnu  Hajar,  “Keharamannya disyaratkan adanya dua hal, 1) ada dalam pemeliharaannya, 2) yang  akan  menikahi telah menyetubuhi ibunya.  Karena  itu, tidak  menjadi  haram kalau hanya ada salah satu  di  antara kedua syarat tersebut.”

Pendapat ini dikuatkan oleh hadits yang dikeluarkan  oleh Abdur  Razaq,  Ibnu Munzir dan yang  lainnya  melalui  jalan Ibrahim bin Ubaid bin Malik bin Aus. Dia berkata, “Aku memiliki isteri yang telah memiliki anak lalu ia mati, maka  aku menemukan  anaknya itu, lalu aku temui Ali bin  Abi  Thalib. Dia berkata kepadaku, ‘Ada apa denganmu?” Aku  menceritakannya  (tentang  kematian isteriku). Ali  berkata,  Apakah  ia punya  anak perempuan? (dari suami selain kamu). Aku  jawab, “Ya”. Ali bertanya lagi, “Apakah ia ada dalam pemeliharaanmu ?”. Jawabku, “Tidak. Dia ada di Ta’if.” Ali berkata,  “Nikahilah dia ! Aku bertanya, “Bagaimana dengan firman Allah (wa raba`ibukum)? Jawab ali, “Anak itu tidak berada dalam  pemeliharaanmu.

Seperti ini pula pendapat Dawud bin Ali dan shahabatnya, dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm. Serta  diceritakan oleh Abu al-Qasim al-Rafi’i dari Malik, dan telah ditanyakan pada Imam Ibnu Taimiyah sedang beliau mendiamkannya.

Ibnu  Hajar berkata, “Andaikan tanpa ijma’, hadits  dalam masalah  ini dan jarangnya perbedaan, pastilah  mengambilnya lebih utama.

Jumhur  ulama’ berpendapat bahwa  Rabibah  (anak  tiri) haram,  apakah ia ada dalam pemeliharaan atau tidak. Mereka mengatakan, khithab seperti ini sering digunakan di kalangan umum,  maka  tak  mungkin ada pemahaman  yang  lain  seperti firman  Allah “Janganlah kamu paksakan budak-budak  wanitamu untuk  melakukan pelacuran sedang mereka menginginkan  kesucian” (Al-Nur:33)

Inilah  Madzhab Imam yang empat, ahli fiqh  yang  tujuh, dan mayoritas ulama’ salaf maupun khalaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s