Matematika Koruptor

Ada pendapat yang mengatakan bahwa di negera ini para pencoleng uang rakyat tidak seorangpun yang merasa telah melakukan tindakan korupsi karena tindakan yang dilakukannya dianggap sebagai hal yang wajar saja, sama seperti yang dilakukan oleh pendahulunya dan juga teman-temannya yang lain sesama pencoleng.

Jabatan sebagai Kepala Dinas dan Pimpro seolah peluang menjadi Main Kontraktor (kontraktor utama) atau konsultan, sehingga berhak untuk mendapatkan keuntungan dan komisi dari nilai proyek, kontraktor asli menjadi subkontraktor saja. Jabatan sebagai Kepala Biro Umum pada sebuah intansi dianggap peluang menjadi pemberi proyek pengadaan yang sangat wajar mendapatkan fee, dan berbagai modus lainnya.

Demikian pula halnya dengan anggota legislatif karena tugasnya sebagai pembuat undang-undang atau peraturan daerah, maka keuntungan akan diberikan kepada pihak yang mau membayar meskipun peraturan tersebut merugikan rakyat, sebagai penentu anggaran anggota DPR/D sering sekali kongkalikong dengan eksekutif untuk menyetujui anggaran yang sama sekali tidak memihak kepada rakyat dan masih banyak prilaku kolutif lainnya.

Sehingga tidak salah bung Hatta, proklamator kita itu, berpendapat bahwa korupsi di Indonesia telah menjadi budaya. Tanpa bermaksud tidak sopan kepada Bung Hatta saya tidak setuju dengan pendapat tersebut karena dalam komunitas yang sangat amburadul sekalipun tindakan melawan hukum itu tidak akan diakui sebagai budaya. Sekali kriminal tetap kriminal.

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa para koruptor adalah orang yang tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup, sehingga dengan entengnya melakukan perbuatan nista tersebut. Sekali lagi menurut pendapat saya, pendapat itupun tidak tepat, karena menurut saya justru karena pengetahuan agama mereka yang cukup, maka mereka merumuskan formula matematis korupsi.

Ayat suci dalam Al’Qur’an surat 6:160 yang artinya, “Barang siapa yang membawa amal baik,maka (pahala) sepuluh kali lipat dari amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan perbuatannya, sedang mereka tidak sedikitpun dianiaya (dirugikan).”

Ayat suci tersebut rupanya dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh para koruptor, sehingga dibuatlah rumus sebagai berikut :

(B * 10) – J = P

Dimana, B adalah keBaikan, J adalah keJahatan dan P adalah Pahala.

Contoh soal,

Seseorang mengkorupsi uang negara sebesar 1 milyar, maka keJahatannya 1 Milyar, berapakah kebaikan yang harus dilakukan agar keJahatannya (dosanya)terhapus ?

Analisa, agar kejahatan terhapus atau dosanya tidak ada, maka setidaknya Pahalanya nol jadi P = 0, karena saat pahala nol amalnya habis untuk menebus dosa, kalau dosanya masih ada berarti pahalanya minus.

Diketahui : J adalah 1M = 109

Ditanya                    : B ?

Jawaban :

(B * 10) – J = P

10B – 109 = 0

10B = 109

B = 109/10

B = 108 = 100.000.000

Jadi kebaikan yang harus dilakukan untuk menebus dosa 1 Milyar itu hanyalah sebesar 100 juta.

Dengan formula tersebut di atas sungguh murah harga dosa yang harus ditebus, apalagi mereka menebusnya lebih dari 100 juta maka pahalanya sudah lebih ditambah dengan masih banyak sisa uang yang bisa dimanfaatkan untuk membeli mobil, membeli rumah, memiliki istri simpanan bahkan untuk membayar pengacara, menyuap jaksa dan menyogok hakim.

Belum lagi kalau mereka menggunakan formula :

(B * 700) – J = P

Karena ada ayat yang menyebutkan (artinya), ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir, pada tiap bulir terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.”

Maka, tentu akan semakin murah harga dosa yang dilakukan para koruptor. Untuk kasus di atas cukup dengan membayar kurang lebih 1,5 juta saja, maka dosa-dosanya terhapus.

Rumusan di atas tentu saja hanyalah sebuah ilustrasi sebagai gambaran bahwa para koruptor di negeri ini sama sekali tidak takut berbuat kejahatan, jangankan undang-undang anti korupsi, Kitab Suci saja mereka abaikan. Tidak ada satupun Kitab Suci yang membenarkan perbuatan korupsi. Sebagai contoh dalam Islam disebutkan, Allah tidak menerima sedekah dari hasil pengkhianatan (korupsi) dan tidak menerima melainkan dari hasil usaha yang halal. Dan sekian banyak Ayat Al-Qur’an dan hadist yang mencela bahkan mengancam pelaku korupsi.

Saat jabatan dianggap sebagai rahmat, maka segala fasilitas dan pendapatan yang diterima karena jabatan dianggap rezeki dari Tuhan tidak perduli apakah cara mendapatkannya benar atau salah. Seharusnya jabatan dianggap sebagai amanat sehingga penerima amanat sadar bahwa segala tindakannya akan selalu diawasi oleh Tuhan.

Ditulis oleh : Zubhan Oemar

Peminat masalah-masalah Sosial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s